Potret Buram Kesejahteraan Petani di Hari Tani Nasional, Antara Harapan dan Realita

oleh -1367 Dilihat
oleh
banner 468x60

SUKABUMI, Cybernewsnasional.com – Peringatan Hari Tani Nasional yang jatuh setiap 24 September, masih menyisakan potret buram kesejahteraan petani di daerah. Di Kabupaten Sukabumi, suara lirih petani masih terdengar sama dari tahun ke tahun, yakni soal belum sejahteranya hidup sebagai petani.

Salah satu suara itu datang dari Desa Bojongkembar, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi.

banner 336x280

Masih jomplangnya penghasilan petani jika dibandingkan dengan profesi lain menjadi persoalan utama yang belum terpecahkan.

Kondisi tersebut semakin terasa berat di musim kemarau seperti saat ini.

Kekurangan air menjadi momok yang setiap tahun menghantui petani, terutama petani hortikultura dan pangan.

Ketika debit air berkurang, produksi otomatis ikut anjlok, dan pada akhirnya penghasilan petani pun terpangkas.

Keluhan itu disampaikan Apep Sambas, seorang petani hortikultura asal Desa Bojongkembar.

Menurutnya, penurunan produksi menjadi pukulan telak di tengah naiknya biaya operasional pertanian.

Mahalnya sarana produksi pertanian (saprotan) seperti pupuk, pestisida, dan bibit, menjadi beban pertama yang harus ditanggung.

Belum lagi upah tenaga kerja yang terus naik, sementara harga jual hasil panen kerap tidak sebanding.

“Kalau kemarau begini, sudah pasti produksi berkurang. Biaya perawatan tetap jalan, bahkan lebih mahal karena harus cari air,” ujar Apep saat dihubungi dilokasi pertanian, Kamis 24/09/2026.

Di tengah keluh kesah tersebut, disahkannya Undang-Undang Reforma Agraria sedikit memberi angin segar bagi petani.

Regulasi tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi petani untuk mendapatkan kepastian atas penguasaan lahan.

Namun Apep menilai, masih ada pekerjaan rumah besar terkait aturan turunan dari UU tersebut.

Ia khawatir, tanpa regulasi pelaksana yang jelas dan keberpihakan yang nyata, UU tersebut hanya akan berhenti sebagai jargon.

Karena itu, ia berharap pemerintah pusat hingga daerah benar-benar serius mengawal implementasi Reforma Agraria.

“Mulai dari menjamin penguasaan lahan untuk petani penggarap, stabilisasi harga hasil pertanian, hingga kemudahan akses permodalan dan pendampingan, agar Hari Tani tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi momentum nyata untuk menyejahterakan petani,” pungkasnya.

(AZ)

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.