18 September Hari Pemantauan Air Sedunia, Kualitas Cisadane Tangerang Perlu Mendapat Perhatian

oleh -217 Dilihat
Kondisi sungai Cisadane di bawah bendungan pintu air 10.
banner 468x60

TANGERANG, Cybernewsnasional.com — Hari Pemantauan Air Sedunia atau World Water Monitoring Day diperingati setiap 18 September. Momentum global ini menjadi ajakan bagi masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap kualitas air sekaligus mendorong keterlibatan publik dalam memantau dan menjaga sumber daya air di lingkungan sekitar.

Merujuk laman Nasional Today, peringatan tersebut digagas oleh America’s Clean Water Foundation (ACWF) pada 2003. Awalnya, peringatan direncanakan pada 18 Oktober sebagai bentuk penghormatan terhadap pengesahan Undang-Undang Air Bersih Amerika Serikat tahun 1972.

banner 336x280

Namun, ACWF kemudian mempertimbangkan kondisi sejumlah negara yang memasuki musim dingin pada Oktober sehingga badan air berpotensi membeku dan sulit dipantau. Untuk memperluas partisipasi masyarakat dan negara, tanggal peringatan kemudian digeser menjadi 18 September.

Hari Pemantauan Air Sedunia bukan sekadar momentum seremonial. Peringatan ini mengingatkan bahwa air bukan hanya kebutuhan sehari-hari, tetapi sumber daya yang kualitasnya perlu dipantau, dilindungi, dan dijaga secara berkelanjutan.

Cisadane dan Tantangan Pemantauan Kualitas Air

Momentum tersebut menjadi relevan bagi Tangerang yang memiliki Sungai Cisadane, salah satu sumber daya air penting yang menopang kehidupan masyarakat di wilayah sekitarnya.

Persoalannya, informasi mengenai kualitas air Cisadane secara menyeluruh dan terkini di setiap titik pemantauan belum seluruhnya tersedia dalam bentuk rilis resmi yang mudah diakses publik.

Informasi yang dapat dipantau secara berkala melalui kanal Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSC) antara lain ketinggian muka air atau TMA.

Pada Kamis, 17 September 2026, misalnya, TMA Cisadane di bagian atas pintu bendung tercatat mencapai 10,45 meter, berada di bawah angka normal yang disebut mencapai sekitar 12 meter.

Kondisi tersebut menjadi bagian dari gambaran tekanan terhadap Sungai Cisadane selama musim kemarau. Selain penurunan muka air, perubahan kondisi sungai juga menjadi perhatian karena berkaitan dengan ketersediaan air baku dan kualitas lingkungan perairan.

Hal tersebut sejalan dengan informasi dari Perumda Tirta Benteng, BUMD Kota Tangerang, yang pada 8 September 2026 menyampaikan bahwa kualitas air yang didistribusikan kepada masyarakat mengalami penurunan. Kondisi tersebut dikaitkan dengan kualitas air baku Sungai Cisadane yang terdampak musim kemarau.

Di bawah Bendung Pasar Baru atau Pintu Air 10, penyusutan debit air bahkan membuat sejumlah batu besar di tengah aliran sungai kembali terlihat.

Kondisi tersebut menjadi perhatian masyarakat dan ramai disoroti di media sosial. Sementara itu, pada sejumlah titik lainnya, persoalan kualitas air juga perlu mendapat perhatian, khususnya terkait potensi pencemaran. Perlu adanya sinergi dan kerjasama pengawasan antar pemerintah daerah yang dilintasi Sungai Cisadane dari hulu ke hilir.

Air Cisadane Hilir Terlihat Hitam dan Berbau

Kondisi lapangan yang ditemukan wartawan Cybernewsnasional.com menunjukkan adanya persoalan lain di wilayah hilir Sungai Cisadane.

Di kawasan setelah Bendung Pintu Air 10, tepatnya di perbatasan Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang, air sungai terlihat hitam pekat dan mengeluarkan bau.

Temuan tersebut merupakan kondisi visual di lapangan dan tentunya membutuhkan pengujian laboratorium untuk memastikan penyebab serta tingkat pencemarannya.

Namun, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pemantauan kualitas Sungai Cisadane tidak cukup hanya melihat ketinggian muka air. Pemantauan kualitas air secara berkala pada berbagai titik dari hulu hingga hilir juga penting untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi sungai.

Masyarakat Bisa Ikut Memantau

World Water Monitoring Day pada dasarnya lahir dari gerakan untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pemantauan kualitas air.

Program tersebut kemudian dikembangkan oleh EarthEcho International dengan mendorong masyarakat, termasuk generasi muda, untuk ikut mengamati, menguji, dan menjaga sumber daya air di lingkungan masing-masing.

Pemantauan tidak selalu harus dilakukan dengan peralatan laboratorium yang kompleks. Pengamatan awal dapat dilakukan melalui sejumlah parameter dasar, seperti suhu air, pH, oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO), serta kekeruhan atau turbidity.

Meski sederhana, parameter tersebut dapat memberikan gambaran awal mengenai kondisi suatu badan air.

Bagi Tangerang, peringatan Hari Pemantauan Air Sedunia dapat menjadi momentum untuk memperkuat keterbukaan informasi kualitas Sungai Cisadane, memperluas titik pemantauan, serta mendorong kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, komunitas lingkungan, akademisi, dan dunia usaha.

Sebab, menjaga Cisadane bukan hanya soal memastikan sungai tetap mengalir, tetapi juga memastikan air yang mengalir tetap memiliki kualitas yang baik bagi lingkungan dan kehidupan masyarakat. (Ups)

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.