JAKARTA.Cybernewsnasional.com-Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan TNI Angkatan Udara (TNI AU) memperkuat komunikasi dan kerja sama dalam pembinaan mental serta kehidupan keagamaan prajurit dan keluarga. Langkah tersebut ditandai dengan audiensi Kepala Dinas Pembinaan Mental dan Ideologi TNI Angkatan Udara (Kadisbintalau) Marsma TNI Jaeetul Muchlis, M.Ag., bersama jajaran dengan Ketua KWI Mgr. Antonius Subiyanto Bunyamin, OSC, di Kantor KWI, Jalan Cut Meutia No. 10B, Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Audiensi yang berlangsung pukul 11.00-12.00 WIB itu menjadi bagian dari silaturahmi sekaligus pembahasan roadmap menuju nota kesepahaman (MoU) antara Gereja Katolik dan TNI AU. Pertemuan membahas penguatan pelayanan pastoral bagi prajurit TNI AU dan keluarganya yang beragama Katolik, termasuk menghadapi keterbatasan jumlah imam yang selama ini menjadi salah satu tantangan pembinaan rohani di lingkungan TNI AU.
Rombongan Disbintalau dipimpin Kadisbintalau Marsma TNI Jaeetul Muchlis, M.Ag., didampingi Sesdisbintalau Kol Sus Pdt. Jimmy Steven Sundalangi, S.Th., Kasubdis BFK Kol Sus Ariyansyah, Kasubdis Kejiwaan Kol Sus Mulyadi, Staf Binroh Kapten Sus Moh. Afan dan Staf Binroh PNS Saeful Uyun.
Sementara dari KWI hadir Ketua KWI Mgr. Antonius Subiyanto Bunyamin, OSC, Sekjen KWI Mgr. Adrianus Sunarko, OFM, serta Rm. Jeharut, Pr. Pertemuan juga dihadiri perwakilan Ordinariat Militer Indonesia (OCI), yakni Rm. Yos Bintoro, Pr., Marsda TNI Purn. Alfonsus Joko Takarianto, AKBP Purn. Petronela dan Dar Edi Yoga, dan Samuel Wahyu R.S.
Kadisbintalau Marsma TNI Jaeetul Muchlis mengatakan, audiensi dengan KWI merupakan bagian dari upaya membangun komunikasi dengan berbagai lembaga keagamaan. Sebelumnya, pihaknya juga telah melakukan komunikasi dengan Kementerian Agama, PGI dan MUI.
“Kami datang selain untuk menjalin komunikasi, juga ingin membangun kerja sama ke depan. KWI merupakan wadah Gereja Katolik di Indonesia, sehingga kami berharap berbagai kebutuhan pembinaan prajurit dan keluarga Katolik dapat dikoordinasikan melalui jalur yang tepat,” ujar Jaeetul.
Menurutnya, pembinaan mental memiliki posisi strategis bagi prajurit TNI AU. Karena itu, rumah ibadah di lingkungan TNI AU tidak hanya diharapkan menjadi tempat pelayanan keagamaan, tetapi juga pusat pembinaan moral, solidaritas sosial dan moderasi beragama.
Ia menegaskan pentingnya menjaga agar kehidupan keberagamaan prajurit tetap berada dalam koridor moderasi dan memperkuat komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Ketua KWI Mgr. Antonius Subiyanto Bunyamin, OSC, menyambut positif langkah TNI AU tersebut. Ia menilai TNI AU selama ini menunjukkan perhatian kuat terhadap pembinaan kehidupan beragama prajurit dan menjadi salah satu contoh dalam penerapan moderasi beragama di lingkungan TNI.
“Kam melihat Angkatan Udara berada di jalur terdepan dalam moderasi agama. Kami merasakannya di keuskupan-keuskupan, dengan adanya personel TNI AU yang mengedepankan kualitas dan profesionalitas sebagai anggota TNI, bukan semata-mata soal agama,” kata Mgr. Antonius.
Mgr. Antonius menjelaskan, KWI merupakan wadah musyawarah dan kebersamaan para uskup, bukan lembaga dengan garis komando. Saat ini Gereja Katolik Indonesia memiliki 39 keuskupan, termasuk Keuskupan baru hasil pengembangan Keuskupan Labuan Bajo.
Dalam konteks pembinaan personel TNI dan Polri, KWI siap memperkuat jejaring dengan keuskupan-keuskupan di berbagai daerah. Jaringan tersebut dinilai penting untuk memastikan prajurit dan keluarga Katolik memperoleh pelayanan rohani yang memadai, meskipun jumlah imam yang secara organik berada di lingkungan TNI masih terbatas.
Sementara itu, Rm. Yos Bintoro, Pr., menekankan pentingnya keberadaan imam yang dapat memberikan pelayanan rohani secara berkelanjutan di lingkungan TNI AU. Menurutnya, kebutuhan tersebut terutama terlihat di sejumlah pusat pendidikan dan satuan strategis, antara lain di Yogyakarta, Bandung dan lingkungan pembinaan mental TNI AU.
“Secara simbolik maupun historis, pelayanan pembinaan mental di lingkungan TNI juga dimulai dengan kehadiran seorang imam. Karena itu, kami berharap ke depan ada imam yang dapat masuk dalam struktur organik sehingga pelayanan dan pembinaan dapat berlangsung secara berkesinambungan,” ujar Rm. Yos.
Ia juga menyebut pembahasan MoU antara institusi keagamaan dan TNI sebenarnya bukan hal baru. Pengalaman dalam pembinaan lintas agama di lingkungan TNI menjadi modal penting untuk membangun kerja sama yang lebih sistematis antara TNI AU dan Gereja Katolik.
Dalam pertemuan tersebut, Rm. Yos juga memaparkan perkembangan pelayanan pastoral Katolik bagi personel TNI dan Polri di sejumlah wilayah. Pelayanan tersebut terus diperluas melalui koordinasi dengan para uskup setempat, mulai dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara Timur hingga Jawa.
Kadisbintalau menyambut baik perkembangan tersebut dan berharap setiap kegiatan OCI maupun pelayanan rohani Katolik yang melibatkan prajurit TNI dapat terus dikomunikasikan dengan jajaran Disbintalau. Dengan demikian, kegiatan pembinaan rohani dapat menjadi bagian integral dari pembinaan mental TNI AU.
“Yang kita kerjakan adalah objek yang sama, yaitu umat. Kita ingin bergandengan tangan dalam moderasi beragama agar ekspresi keberagamaan tidak menjadi sumber persoalan, tetapi justru memperkuat persatuan,” tegasnya.
Menurut Jaeetul, keterbatasan personel dan anggaran tidak boleh menjadi penghalang untuk memberikan pembinaan secara maksimal. Justru melalui kolaborasi dengan lembaga keagamaan, berbagai persoalan yang dihadapi prajurit dan keluarga dapat dicarikan solusi bersama.
Mgr. Antonius menegaskan KWI terbuka untuk mendukung kerja sama tersebut. Jejaring pembinaan mental TNI AD, TNI AL dan TNI AU telah berada di berbagai keuskupan dan dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pelayanan tanpa harus membangun struktur baru.
Ia berharap kerja sama TNI AU dan Gereja Katolik dapat menjadi contoh yang kemudian dikembangkan lebih luas. Bahkan, menurutnya, jika model tersebut berjalan baik, bukan tidak mungkin menjadi rujukan untuk penguatan kerja sama di tingkat Mabes TNI.
“Kami menyediakan diri untuk bekerja sama. Mudah-mudahan di semua keuskupan ada pelayanan seperti ini dan ke depan dapat dilakukan pertemuan nasional para pembina pastoral bagi prajurit,” kata Mgr. Antonius.
Audiensi ditutup dengan komitmen kedua pihak untuk melanjutkan komunikasi dan menyusun langkah konkret menuju MoU. Kerja sama tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi dokumen formal, tetapi menjadi landasan penguatan pembinaan mental, pelayanan rohani, moderasi beragama serta pengabdian prajurit dan keluarga TNI AU kepada bangsa dan negara.
(Sunarno)













