BOGOR.Cybernewsnasional.com-Retreat wartawan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang digelar di Pusat Kompetensi Bela Negara, Desa Cibodas, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, 29 Januari hingga 1 Februari 2026, dimaknai sebagai momentum penting memperkuat peran pers dalam konteks bela negara kontemporer.
Dosen Kriminologi FISIP Universitas Indonesia, Dr. Bagus Sudarmanto, menilai bela negara saat ini tidak lagi terbatas pada aspek militer, tetapi juga menyangkut kemampuan bangsa menjaga ketahanan ruang informasi.
“Bela negara hari ini tidak lagi hanya soal pertahanan bersenjata, tetapi juga tentang bagaimana bangsa ini menjaga ruang informasinya agar tidak dikuasai disinformasi dan perang opini,” tulis Dr. Bagus Sudarmanto.
Menurutnya, perubahan karakter ancaman yang semakin banyak bergerak di ruang nonfisik menempatkan wartawan pada posisi yang sangat strategis. Pemberitaan media dinilai berperan besar dalam membentuk cara publik memahami ancaman, rasa aman, dan kepercayaan terhadap negara.
“Wartawan berada di posisi strategis karena pemberitaan merekalah yang membentuk cara publik memahami ancaman, rasa aman, dan kepercayaan terhadap negara,” ujarnya.
Bagus menjelaskan, ancaman nonfisik seperti hoaks, perang narasi, dan polarisasi sosial bekerja secara perlahan namun sistematis dalam melemahkan kohesi sosial bangsa.
“Ancaman nonfisik seperti hoaks, perang narasi, dan polarisasi sosial bekerja secara perlahan, tetapi dampaknya bisa sangat serius bagi persatuan bangsa,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa praktik jurnalistik yang sensasional dan minim konteks tidak bisa lagi dipandang sebagai persoalan etika semata, karena berpotensi memperbesar kecemasan publik.
“Pemberitaan yang sensasional dan minim konteks bukan sekadar persoalan etika, tetapi bisa memperbesar kecemasan publik dan melemahkan ketahanan sosial,” tegasnya.
Dalam konteks itu, retreat wartawan PWI dinilai sebagai ruang refleksi yang penting bagi insan pers di tengah tekanan kecepatan informasi dan logika klik di era digital.
“Retreat wartawan PWI menjadi momen penting bagi insan pers untuk berhenti sejenak, bercermin, dan menegaskan kembali peran kebangsaan jurnalisme di tengah derasnya arus informasi digital,” jelas Bagus.
Ia menegaskan, di tengah situasi perang opini, jurnalisme yang berdisiplin dan akurat merupakan bagian nyata dari bela negara.
“Di tengah perang opini, jurnalisme yang berdisiplin, akurat, dan berpihak pada kepentingan nasional merupakan bentuk bela negara yang paling nyata saat ini,” pungkasnya.












