Realisasi Lelang PADes Pajajar Diduga di Mark-Up

Majalengka, MCNN – Destinasi obyek wisata yang dimiliki Desa Pajajar Kecamatan Rajagaluh Kabupaten Majalengka Provinsi Jawa Barat yang terkenal adalah Petilasan Prabu Siliwangi.

Dengan memiliki obyek wisata tersebut tentunya menjadi kebanggaan sendiri bagi warga Pajajar, hal ini pula menjadi pemasukan desa atau Pendapatan Asli Desa (PADes) Pajajar, karena setiap tahunnya desa melakukan pelelangan terhadap pengelolaan obyek wisata tersebut.

Dari keterangan Kasi Ekbang Pajajar, Agus kepada Media Cyber News Nasional (MCNN), dirinya menjelaskan bahwa padaTahun 2020 lalu pihak desa mendapatkan hasil lelang pengelolaan obyek wisata petilasan Prabu Siliwangi cukup lumayan besar.

“Dari seluruh pelalangan asset yang dimiliki Desa Pajajar Tahun 2020, kami mendapatkan pemasukan sebesar sekira 450 Juta.m Rupiah.” ujar Agus. Selasa (19/01/2021).

Dijelaskan lebih lanjut bahwa dari hasil pelelangan pihaknya mengaku telah merealisasikan ke sejumlah kegiatan dan kebutuhan desa.

Saat awak media mengkonfirmasi adanya tudingan miring oleh sejumlah warga Pajajar terkait realisasi hasil lelangan yang diduga di mark-up. Kuwu dan Kasi Ekbang Pajajar membantah adanya tudingan yang dialamatkan kepada pihaknya tersebut.

Menurut kuwu Pajajar, Paung juga Agus semua anggaran dari hasil pelelangan menurut mereka sudah seuai dengan aturan dan RAB.

Merekapun berdalih, jika pihaknya tidak transfaran terkait realisasi uang hasil lelangan, karena menurutnya pada saat warga dikumpulkan untuk membuat SPJ hasil pelelangan, bisa saja pihaknya mengundang warga pada waktu pagi, jelasnya.

“Tapi ini kan tidak, mereka kami undang pada malam hari supaya mereka bisa hadir tidak menggangu pekerjaan siang harinya.”ujar Agus.

Sejumlah warga  sendiri menuding jika Pemdes Pajajar diduga telah memark-up uang hasil lelangan. Pada sejumlah pekerjaan dan kegiatan desa, yakni pengecetan kantor bale desa hingga 10 juta rupiah, service mobil siaga desa10 juta rupiah.

Dan yang membuat geleng – geleng kepala sejumlah warga yakni pada pembuatan garasi mobil siaga yang hanya memakai baja ringan dengan ukuran kurang lebih 8X4 meter tanpa tiang dan bangunannya pun menempel pada bangunan bale desa juga poskesdes.

Namun anggaran yang dihabiskan hingga 10 Juta Rupiah juga pada kegiatan dan pekerjaan lainnya, menurut sejumlah warga banyak keganjilannya.

Sementara itu, semua tudingan tersebut dijawab oleh Kuwu Paung juga Kasi Ekbang Agus, bahwa pengecetan bale desa hingga anggaran yang dihabiskan 10 Juta Rupiah, tidak hanya  pengetan saja, namun termasuk dengan mengkoting atau memoles pasangan batu yang menempel di dinging bale desa.

Sedangkan untuk pembuatan garasi, Agus menjawab bahwa biaya sebesar itu termasuk dengan biaya pembongkaran bangunan yang menonjol sebelum pembuatan garasi dengan menggunakan baja ringan.

Dan untuk biaya service mobil siaga hingga 10 Juta Rupiah itu menurut Kuwu dan Kasi Ekbang anggaran tersebut bukan untuk satu kali service, tetapi anggaran untuk satu tahun termasuk perawatan dan ganti oli, jelasnya. (Bisri).

 628 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan