Janggalnya Penetapan Tersangka, Penanganan Polsek Pituruh Disoal

Polsek Pituruh

PUWOREJO, MCNN – Dinilai janggal atas penetapan tersangka kasus Pasal 170 KUHP dengan dugaan dipaksakan, penanganan pelayanan kerja Polsek Pituruh, jajaran Polres Purworejo mulai dipertanyakan.

Hal tersebut berdasarkan penanganan kasus yang dialami ‘YA’ warga Desa Krajan sebagai terlapor, atas tuduhan pengeroyokan yang dilaporkan SR ke Polsek Pituruh.

Pasalnya, dugaan kejanggalan diungkapkan pihak keluarga terlapor yang diwakili oleh Pimpinan Perusahaan tempat YA bekerja. Sebagai mediator, Agus Darma Wijaya, sebagai pimpinan perusahaan yang mewakili keluarga YA, mencoba menelisik dan menganalisa perkara tersebut yang diduga banyak kejanggalan.

“Jika dianalisa, menurut saya dugaan yang janggal banyak sekali, mulai dari terbitnya Surat Penahanan dan Surat Pemberitahuan Dimulai Penyidikan (SPDP) pada Kamis,18 Juni 2020, yang tidak lagi mengkaji, melakukan lidik, melihat sebab akibat, hingga terkesan dipaksakan,” ungkapnya, Kamis (9/7/2020) saat diwawancarai di Kantornya wilayah Kota Tangerang.

Menurutnya, atas penagkapan tersangka yang dinilai terburu-buru, dugaan lain adalah oknum anggota Polsek Pituruh yang mencoba menunggangi, yang juga sebagai pihak keluarga korban.

Selain itu, menurut Darma sebagai pihak terlapor, dirinya juga pernah mengkomfirmasi pihak Puskesmas Pituruh pada Kamis, 25 JUNI 2020 dengan bertemu langsung Kepala Puskesmas Pituruh Dr. Sutrisno, untuk mpertanyakan surat hasil Visum pada tanggal 17 Juni 2020.

“Belum dapat keluar hasil Rekam Medis dari seorang ahli Rekam Medis, karena pada malam itu hanya ada dua orang perawat yang melakukan pemeriksaan visum sesuai SOP Puskesmas, dan dari hasil keterang Kepala Puskesmas, hasil visum tidak ada luka yang sangat serius yang dapat mengganggu aktifitas kegiatan sehari- hari, hanya luka lebam di bawah mata Sarino,” terang Darma, menerangkan penjelasan pihak Puskesmas Pituruh saat itu.

Atas pembuktian itu, menurut Agus, secara pembuktian penangkapan tersebut sangat terkesan dipaksakan, dan hanya mendengarkan keterang Pelapor dan saksi, yang mana sebagai kawan pelapor, dengan tanpa melihat Asas Sebab Akibat, Lidik dan luka pada korban.

Dirinya menganggap penanganan Polsek Pituruh diduga berpihak, tidak Profesional, Prosedural dan Proporsional. Untuk itu, ia berharap pihak kepolisian sebagai penegak hukum dapat berlaku se adil- adilnya dengam independen, tanpa ada interpensi dan keterpihakan.

“Suatu permasalahan Hukum yang dilaporkan seharusnya dapat bijak ditangani oleh seorang Polisi sebagai Penegak Hukum, dengan menimbang Pekap Perkap Kapolri sebagai landasan dalam menentuka suatu laporan yang selamanya tidak harus dijerat oleh pasal- pasal yang ternyata tidak menguatkan bukti- bukti untuk menjadikan seseorang menjadi tersangka,” tandas Darma.

Korban Gigitan

Sedangkan pengakuan YA sebagai tersangka, menganggap pasal yang diterapkan atas dirinya, terlalu memberatkan. Pasalnya, dirinya mengaku hanya membela diri meski melakukan pemukulan dua kali atas korban.

“Saat itu memang terjadi cekcok antara korban dan temannya TG hingga terjadi perkelahian, nah saya cuma coba melerai mereka, tiba-tiba korban menarik tangan saya dan menggigitnya, karena sakit digigit saya berusaha melakukan pembelaan sampai spontan memukul korban dua kali. Saat itu, saya langsung dipegang oleh adik korban dan rekannya dengan mengancam akan membawa saya ke pihak berwajib,” jelasnya.

Setelah kejadian itu, menurut YA yang sempat memisahkan diri ketempat lain karena takut, namun dirinya didampingi sang kakak, mendatangi pihak berwajib (Polsek Pituruh-red), guna menjelaskan akar permasalahan yang terjadi, dengan niat menemukan solusi perdamaian atas ke khilafan dirinya.

Namun, niat baik YA dihadapan petugas, malah dinilai semakin menyudutkannya, dengan dugaan memihak korban keterlibatan oknum anggota Polsek Pituruh yang juga sebagai salahsatu keluarga korban, dengan melakukan diskriminasi menyudutkan hingga melakukan penahanan.

“Niat baik menjelaskan kejadian sebenarnya, akan tetapi bukan perdamaian yang terjadi, tetapi penangkapan dan penahanan oleh Polsek Pituruh, sampai saya sempat digampar oleh oknum petugas Polsek Pituruh (Gebi). Hebatnya lagi, surat pemberitahuan penahanan atas saya sudah dibuat, tanpa ada hasil visum dan proses lain sebagaimana mestinya,” beber YA.

Sebagai tersangka, YA berharap kasus ini bisa diproses sebagaimana mestinya, dengan pasal yang sesuai atas dirinya.

“Menurut saya ini bukan pengeroyokan sebagaimana disangkakan dengan pasal 170 UU KUHP, tapi ini murni pemukulan atas kesalahan saya. Semoga kasus ini kedepan lebih jelas dan dapat adil. Memang saya salah tapi tolong jangan memberatkan saya, dengan tuduhan yang lebih memberatkan saya,” harap YA. (red)

Tinggalkan Balasan