Artikel Karya : Hasbullah Dosen UMPRI/ Founder Tadarus Kehidupan

Pringsewu, MCNN– Kedatangan Presiden Joko Widodo yang di rencanakan hadir pada tanggal 2 September 2021 di kabupaten Pringsewu dan kabupaten lainya menciderakan nilai-nilai kepemimpinan. Di tengah masih ditetapkan level 4 kabupaten Pesawaran dan Pringsewu dalam penularan wabah Covid 19 yang berstatus zona merah. Jika dipandang dari nilai kemanusiaan, dimana kemanusiaan pemimpin? Atau dimana nurani empati seorang pemimpin? Jika dilihat dari keilmuan, sebenarnya paham tidak sih?. Begitu banyak tafsir dan makna dari kedatangan beliau dan ini pantas untuk dicatat.

Mengecewakan dan di luar nalar berfikir. Ketetapan zona merah yang mengandung arti penyebaran covid tidak dapat dikendalikan namun hal ini tidak menjadi bahan pertimbangan, tidak peduli dan dilenyapkan sementara pandemi yang ada. Kedatangan seorang pimpinan pasti akan melakukan hal-hal yang dilarang selama pandemi covid 19. Berkerumun sudah pasti terjadi, jaga jarak pasti akan dirusak, cuci tangan mana sempat dan ini secara akal sehat memberikan kesempatan penuluran virus covid 19 menyebar dengan melenggang.

Seyogyanya pemimpin menahan diri dengan kegiatan yang akan merusak kemaslahatan rakyatnya. Apalagi ini kesehatan, hak yang diatur dalam undang-undang. Jangan egois kekuasaan, demi sebuah kegiatan mengabaikan keadaan yang dampaknya melahirkan kemudaratan secara berjamaah dengan jumlah besar.

Kehadiran seorang Presiden itu sangat ditunggu dan dibanggakan. Sebagai rakyat pasti bahagia jika pemimpinnya datang dan menyapa. Serta menyampaikan harapan dan impian serta memberi anji manis. Pasti akan terobati sakit hati serta luka yang pernah terjadi. Dan itulah sebenarnya tugas seorang pemimpin. Memberikan narasi dan bukti yang menentramkan serta menyakin kebaikan atas kehidupan rakyatnya. Dan bukan sebaliknya

Sacara politik kedatang pemimpin ini adalah bukti dari kepedulian dan perhatian. Sehingga sudah dipastikan elektabilatas dan citra diri serta kelompoknya akan terjaga bahkan akan meningkat. Namun sebenarnya Ini adalah komunikasi politik yang kurang efektif walaupun hasilnya sangat dahsyat di tengah gelombang politik hari ini. Membina dan merawat rakyat arus bawah adalah sebuah keharusnya jika secara politik adan diperhitungkan.

Presiden Selama Kunjungan
Memantau vaksinasi di kabupaten Pesawaran, dengan target 1000 vaksin pada tingkat pelajar. Jikalah ini bayangkan sekelas pemimpin negara mengerjakan yang sebenarnya dapat diselesaikan dengan sekelas kepala daerah bahkan kepala kecamatan. Artinya bahwa akan banyak biaya secara ekonomi yang dikeluarkan, tingginya biaya politik yanh jelas ini keluar dari azas keadilan dan kebijaksanaan dalam memimpin.

Sekelas Presiden sudah seharusnya mampu memantau vaksinasi melalu pembantunya. Dengan membaca data dan pemberitaan yang dapat dipertanggung jawabkan. Presiden memastik semua teknis berjalan melalui perangkat pemerintah yang sudah ada dan terbangung serta dibangun dengan sistem. Maka Presiden mampu menjalan program lainnya, membangun jaringan dan membangun citra Indonesia baik dimata dunia. Jangan sampai yang dilakukan sebuah kebenaran namun jauh dari nilai-nilai kebaikan, atau sebaliknya baik yang dilakukan namun tak ada makna kebenarannya.

Tentang covid 19 ini Presiden berbamain-mainlah pada tataran kebijakan yang mengkunci. Yang mana kunci itu dapat menyelesaikan permasalah yang terjadi selama penyelesain pandemi. Selama ini pemerintah terkesan memaksa dan kurang humanis. Hal ini memperlihatkan ketidak tegasan pimpinan dalam hal ini Presiden. Serta tidak ada kewibawaan kebijakan, karena kebijakan berubah-ubah bahkan merugikan banyak orang terutama rakyat jelatan.

Korupsi dana bantuan sosial untuk penanggulan Covid 19 ini bukti nyata, tidak dapat di pungkiri bahwa ini kecelakaan besar pemerintah. Menari dan bernyanyi diatas luka rakyatnya sendiri. Belum lagi lebijkan pembantu lainya, sangat merugikan pemerintah. Gaya bahasa dan gestur tubuh lebih banyak menyemongkan diri bahkan menghadirkan masalah baru. Maka semestinya komunikasi dan koordinasi sang tuan dengan pembantunya selaras dan menguatkan.

Kehadiran presiden ke Lampung sebenarnya sudah di mulai pada tanggal 17 Agustus 2021. Tatkala seorang pemimpin negara memakai baju adat di tengah upacara perayaan hari Kemerdekaan Rebuplik Indonesia ke 76. Ini jadi kembanggaan bagi rakyat Lampung, beritanya nyaring sampai lorong dan gang-gang pun ikut memberitakan. Di rumah adat dan perkumpulan adat pun jadi pembicaraan yang hangat. Dari sinilah pak Presiden sudan mengucapkan salam pembuka, berpamitan pada Rakyat Lampung jika Presiden akan datang ke Lampung. Inilah gaya komunikasi non berbal yang terlihat jelas.

Namun juga harus di fahami bahwa baju kedaerahan dalam acara nasional menghadirkan setimen tersendiri di bumi Nusantara yang Berbhineka tunggal Ika. Seharusnya agenda Nasional ini adalah menjadi ruang untuk menyatukan kebudayaan dan juga kekayaan ibu pertiwi. Dan baju kedaerahan dapat di pakai pada acara kenegaraan, hal ini dilakukan dalam rangka mengenalkan ragam budaya Indonesia kepada dunia.

Kedatangan Presiden juga telah merubah sedikit tempat-tempat yanh terlewati. Semua tim keamanan bersatu padu mengamankan dari segala sesuatu keburukan yang mungkin terjadi. Hal ini patut diapresiasi dan juga perlu dikoreksi. Kenapa begitu, karena biarkanlah seorang pemimpin melihat realita kekuasaannya, maka dari situlah akan hadir kebijakan. Jangan malu dengan keadaan dan jangan takut dengan keamanan. Percayalah rakyat Indonesia terutama masyarakat di Kabupaten Pesawaran dan Pringsewu ini semua baik dan taat dengan semua aturan. Jika diperlakukan juga sesuai dengan aturan dan keadaan.

Presiden hadir untuk meresmikam agenda dan program pemerintah pusat yaitu bendungan Way Sekampung yang terletak di pekon Banjarejo, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Pringsewu. Sebagai pengetahuan saja, Bedungan ini menelan biaya sebesa 1,744 triliun yang berasal murni dari APBN. Adapun fungsinya adalah sebagai aliran air irigasi. Selain itu juga sebagai penyedia air baku untuk beberapa daerah di luar Pringsewu (kota bandar lampung, metro, branti, tigenenng dan daerah lainnya).

Bendungan ini dirancang memiliki kapasitas air sebanyak 68 juta meter kubik dan akan dimanfaatkan untuk penyediaan air irigasi sebesar 55.373 hektar serta untuk ekstensifikasi berupa pengembangan daerah irigasi rumbia extension dengan potensi luas 17.334 hektar. Dan tidak kalah pentingnya bedungan ini juga menjadi tempat pariwisata, inilah yang sementara ini dapat dinikmati oleh rakyat kabupaten Pringsewu. Dalam hal ini kita patut menyampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat. Namun juga harus difahami ini merupakan kewajiban pemerintah untuk pemetaan potensi dan juga penyaluran potensi daerah.

Maka, akhirnya bedungan dan apa yang di lakukan oleh seorang Presiden itu hakekatnya milik rakyat. Dan menjadi catatan bersama. Maka janganlah sekali-kali pemerintah melemahkan rakyat, bahkan memusihi rakyat dan merendahkannya. Kedatangan seorang Presiden sebenarnya telah melahirkan kebanggaan dan kebahagiaan. Namun disaat bersamaan begitu banyak rakyat menjerit kelaparan dan juga banyak terbaring sakit karena pademin Covid 19. Selamat datang pak Presiden di Bumi Ruwai Jurai. (Red)

 122 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.