CIREBON, Cybernewsnasional.com – Tradisi Ngunjung Buyut atau yang dikenal sebagai Sedekah Bumi merupakan salah satu warisan budaya leluhur yang masih dipertahankan oleh masyarakat di berbagai desa.
Tradisi tersebut bukan sekadar kegiatan adat, melainkan juga menjadi ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rezeki dan manfaat yang diberikan melalui bumi sebagai sumber kehidupan.
Semangat melestarikan tradisi tersebut menjadi pembahasan masyarakat Desa Guwa Kidul, Kecamatan Kaliwedi, Kabupaten Cirebon, Minggu (28/10/2026).
Pembahasan tersebut berkaitan dengan pembentukan panitia pelaksanaan Ngunjung Buyut agar kegiatan adat dapat dipersiapkan dengan baik melalui keterlibatan masyarakat.
Tradisi Ngunjung Buyut memiliki makna mendalam bagi kehidupan masyarakat. Selain sebagai bentuk penghormatan terhadap para leluhur, kegiatan itu juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi, menjaga kebersamaan, serta melestarikan nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Bagi masyarakat, bumi yang dipijak bukan hanya tempat untuk menjalani kehidupan, tetapi juga sumber penghidupan yang memberikan banyak manfaat. Berbagai tanaman, mulai dari padi sebagai sumber pangan utama hingga aneka buah-buahan, tumbuh dari tanah dan menjadi bagian penting dalam memenuhi kebutuhan manusia.
Oleh karena itu, Sedekah Bumi dimaknai sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT atas karunia alam, hasil pertanian, serta keberlangsungan kehidupan masyarakat.
Ketua Tokoh Adat, Semon dalam pembahasan pembentukan panitia Ngunjung Buyut mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mendukung pelaksanaan tradisi tersebut.
Ia menegaskan, bahwa keberhasilan kegiatan adat tidak hanya bergantung pada panitia, tetapi juga membutuhkan partisipasi dan kepedulian seluruh masyarakat.
“Mari kita bersama-sama turun langsung ke masyarakat untuk meminta dukungan dalam berbagai bentuk, baik tenaga, pikiran, maupun materi, demi terwujudnya acara Ngunjung Buyut ini,” ujar Semon.
Menurutnya, kegiatan Ngunjung Buyut hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat persatuan dan semangat gotong royong masyarakat Desa Guwa Kidul.
“Melalui kebersamaan tersebut, diharapkan tradisi leluhur dapat terus dilestarikan tanpa kehilangan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya,” jelasnya.
Pelaksanaan Ngunjung Buyut atau Sedekah Bumi juga diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial tahunan, tetapi juga menjadi sarana untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya bersyukur, menjaga alam, serta menghormati warisan budaya leluhur.
Nilai utama dari tradisi ini adalah menumbuhkan kesadaran bahwa segala bentuk rezeki dan kehidupan merupakan karunia Allah SWT yang patut disyukuri.
Dengan semangat kebersamaan dan gotong royong, masyarakat Desa Guwa Kidul diharapkan dapat terus menjaga tradisi Ngunjung Buyut sebagai bagian dari identitas budaya desa.
Melestarikan tradisi bukan sekedar mengenang masa lalu, melainkan juga menjaga nilai-nilai luhur agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.(Supriyadi)











