Nawal Institute Gelar Dialog Publik tentang Cisadane, BBWSCC Ungkap Kualitas Air Tercemar Berat

oleh -395 Dilihat
Diskusi publik tentang sungai cisadane, digelar tepat di tepian sungai.
banner 468x60

KOTA TANGERANG, Cybernewsnasional.com — Kondisi kualitas air Sungai Cisadane menjadi sorotan dalam dialog publik bertajuk Membaca Cai Cisadane yang digelar Nawal Institute di tepian sungai Cisadane, Kampung Karawaci Ilir, Kota Tangerang, Sabtu (24/10/2026). Forum ini menghadirkan perspektif pemerintah, akademisi, dan masyarakat untuk membahas pencemaran sungai serta tantangan pengelolaan lingkungan di sepanjang alirannya.

Perwakilan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC), Iqbal Faruq, mengungkapkan bahwa hasil pemantauan yang disampaikannya menunjukkan kualitas air Sungai Cisadane masuk kategori tercemar berat, dari hilir hingga hulu.

banner 336x280

“Dalam klasifikasi hasil pemantauan, terdapat kategori baik, tercemar sedang, dan tercemar berat. Berdasarkan hasil pemantauan, kondisi Sungai Cisadane dari hilir hingga hulu masuk kategori tercemar berat,” ujar Iqbal.

Ia menjelaskan, pemantauan kualitas air dilakukan melalui pengujian berbagai parameter, mencakup aspek kimia, biologi, dan mikrobiologi. Selain itu, Iqbal menyoroti aktivitas industri yang mengambil air dari sumber air tanpa memenuhi ketentuan perizinan, serta persoalan pembuangan limbah yang membutuhkan perhatian serius dalam pengawasan sungai.

Iqbal juga menjelaskan bahwa peruntukan air harus dibedakan dari kondisi kualitasnya. Meski air sungai memiliki peruntukan tertentu, penggunaannya untuk kebutuhan konsumsi tetap harus memenuhi persyaratan kualitas air dan pengolahan yang berlaku.

Perwakilan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC), Iqbal Faruq (memegang microphone) dalam diskusi tentang sungai cisadane.

Akademisi Soroti Pembangunan di Bantaran Sungai

Persoalan Cisadane tidak hanya berkaitan dengan kualitas air, tetapi juga pembangunan di kawasan bantaran sungai. Akademisi Ukon Sukanda menilai, pengelolaan sungai harus mempertimbangkan hubungan masyarakat dengan lingkungan yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.

Menurutnya, pembangunan di sekitar sungai tidak seharusnya mengabaikan pengalaman, kebutuhan, dan kepentingan warga yang hidup berdampingan dengan Cisadane.

“Sungai ini bukan sekadar saluran air. Ada kehidupan masyarakat yang tumbuh bersamanya. Karena itu, pembangunan di sekitar sungai harus mendengarkan warga dan mempertimbangkan dampaknya terhadap ekosistem,” kata Ukon.

Ia turut menyoroti pembangunan turap di sepanjang sungai yang perlu dikaji berdasarkan dampaknya terhadap lingkungan. Pelibatan masyarakat dalam proses perencanaan dan pengawasan, lanjutnya, penting agar kebijakan pengelolaan sungai tidak berjalan sepihak.

Warga Ungkap Persoalan Sampah yang Berulang

Dari perspektif masyarakat, Mulyadi, warga Kampung Karawaci Ilir, menyebut persoalan sampah di Sungai Cisadane telah berlangsung lama. Ia menilai kebiasaan sebagian warga membuang sampah ke sungai menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi lingkungan.

“Persoalan sampah ini sudah berlangsung lama. Masih ada warga yang membuang sampah ke sungai karena tidak mau mengeluarkan biaya untuk pengangkutan sampah. Kebiasaan seperti ini juga harus diubah,” ujar Mulyadi.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa penanganan pencemaran sungai tidak cukup hanya mengandalkan pengawasan pemerintah. Perubahan perilaku masyarakat dan dukungan terhadap pengelolaan sampah juga menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kualitas lingkungan.

Penelitian Ilmiah Turut Menjadi Konteks

Kondisi kualitas air Cisadane juga menjadi perhatian dalam sejumlah penelitian ilmiah. Penelitian Romi Tarigan, Sigid Hariyadi, dan Majariana Krisanti terhadap kualitas air bagian hilir Cisadane pada periode 2017–2019 menemukan tingkat pencemaran yang bervariasi, termasuk kategori tercemar berat pada musim kemarau 2018.

Sementara itu, penelitian Yoel Marthin Simamora pada 2026 berjudul “Biodiversitas Makrozoobentos sebagai Bioindikator Status Ekologis Sungai Cisadane” menemukan indikasi pencemaran berat di bagian tengah dan hilir. Adapun bagian hulu dikategorikan tercemar sedang berdasarkan indikator makrozoobentos yang digunakan.

Kedua penelitian tersebut memiliki perbedaan periode, lokasi, dan metode pengukuran. Karena itu, hasilnya perlu dibaca sesuai ruang lingkup masing-masing penelitian, sekaligus menjadi konteks ilmiah dalam pembahasan kondisi ekologis Sungai Cisadane.

Nawal Institute Dorong Kolaborasi Pemulihan Cisadane

Melalui dialog publik Membaca Cai Cisadane, Nawal Institute mempertemukan pemerintah, akademisi, dan warga untuk membahas persoalan kualitas air, aktivitas industri, pembangunan bantaran sungai, hingga keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan.

Forum tersebut menempatkan persoalan Cisadane sebagai isu bersama yang membutuhkan keterbukaan data, pengawasan konsisten, serta koordinasi lintas pihak.

Nawal Institute mendorong agar upaya pemulihan Sungai Cisadane tidak hanya berfokus pada sampah yang terlihat di permukaan, tetapi juga menelusuri sumber pencemaran, memperkuat pengawasan terhadap aktivitas di sepanjang aliran sungai, dan melibatkan masyarakat dalam proses pengambilan kebijakan.

Dengan menghadirkan beragam perspektif, dialog ini menjadi ruang untuk mempertemukan temuan pemantauan, pandangan akademisi, dan pengalaman warga. Tantangan berikutnya adalah memastikan pembahasan tersebut berlanjut menjadi langkah nyata untuk memperbaiki kualitas air dan menjaga keberlanjutan ekosistem Sungai Cisadane. (Ups)

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.