RW 06 Srengseng Sawah Jadi Pilot Project Pengelolaan Sampah Kolaboratif

oleh -66 Dilihat
banner 468x60

JAKARTA,Cybernewsnasional.com-RW 06 Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, menjadi pilot project pengelolaan sampah secara kolaboratif yang melibatkan masyarakat, pemerintah, komunitas, dunia usaha, dan perguruan tinggi.

Lebih dari 400 rumah di wilayah tersebut mendapatkan edukasi dan pendampingan secara door to door. Warga juga mendapatkan dukungan sarana untuk melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah.

banner 336x280

Program tersebut merupakan bagian dari Kolaborasi Sosial Berskala Besar (KSBB) Lingkungan Hidup Klaster Persampahan dan sejalan dengan Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi, mengatakan pengelolaan sampah di Jakarta kini diarahkan untuk mengubah pola lama kumpul, angkut, dan buang menjadi sistem pengelolaan yang dimulai dari sumber.

“Persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya di hilir. Kita harus memperkuat pengelolaan dari sumber, sehingga sebanyak mungkin sampah dapat dipilah dan diolah sebelum masuk ke tempat pemrosesan akhir,” ujarnya di Jakarta, Senin (28/9/2026).

Menurut Dudi, keberhasilan pemilahan sampah membutuhkan sistem yang konsisten. Sampah yang telah dipilah masyarakat dari rumah harus tetap terpisah pada saat pengumpulan hingga pengangkutan dan pengolahan.

“Kita tidak bisa meminta masyarakat memilah apabila setelah itu sampah kembali dicampur. Pemerintah harus memastikan ada kesinambungan dari rumah, pengumpulan, pengangkutan, sampai pengolahan,” katanya.

Sementara itu, Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Purwanti Suryandari, menjelaskan penerapan sistem di RW 06 Srengseng Sawah dirancang agar pemilahan sampah tidak berhenti pada tahap edukasi.

Warga memilah sampah dari rumah, kemudian sampah dikumpulkan dan diangkut secara terpisah untuk selanjutnya diarahkan ke fasilitas pengolahan sesuai jenisnya.

Pendampingan dilakukan secara door to door di RT 02, RT 03, RT 06, dan RT 11. Warga mendapatkan edukasi sekaligus sarana untuk memisahkan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah.

Sampah organik, terutama sisa makanan, dikumpulkan secara terpisah melalui titik pengumpulan yang tersedia. Selanjutnya, sampah yang telah dipilah dibawa petugas ke fasilitas pengolahan sesuai jenisnya.

“Pemilahan adalah pintu masuk. Setelah itu, pengumpulan dan pengangkutannya juga harus terjaga agar tidak tercampur kembali. Kalau rantai ini konsisten, barulah kita bisa mendapatkan pengurangan sampah yang nyata dari sumber,” kata Purwanti.

Sistem pengelolaan sampah di RW 06 dikembangkan melalui pendekatan co-design dengan melibatkan warga, pemerintah, komunitas, dunia usaha, dan perguruan tinggi. Pendekatan tersebut dilakukan agar sistem yang dibangun sesuai dengan karakter dan kebutuhan masyarakat setempat serta dapat berjalan secara berkelanjutan.

Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Administrasi Jakarta Selatan, Iwan Santoso, mengatakan praktik pemilahan sampah dari sumber terus diperluas. Saat ini, sekitar 21.000 rumah di Jakarta Selatan telah menjalankan pemilahan sampah dari sumber.

Program tersebut juga didukung berbagai sarana pengolahan sampah organik, seperti biopori jumbo dan teba modern.

“Dengan pendampingan langsung dari rumah ke rumah, masyarakat dapat melihat sekaligus mempraktikkan bagaimana pemilahan dilakukan. Sampah organik yang sebelumnya dibuang juga dapat diolah menjadi kompos maupun media tanam yang bermanfaat bagi lingkungan,” ungkap Iwan.

 

Penulis : Rizky

Sumber : Kominfotik Provinsi DKI Jakarta.

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.