Tim Penyuluh Mabes TNI Turun ke Duri, Dorong Penanganan Karhutla Terpadu

oleh -121 Dilihat
banner 468x60

DURI.Cybernewsnasional.com-Asap dan kobaran api yang mengancam kawasan hutan dan lahan di Riau menjadi perhatian serius Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (TNI). Untuk memperkuat penanganan di lapangan, Mabes TNI menerjunkan Tim Penyuluh ke wilayah Kodim 0303/Bengkalis, tepatnya di Kota Minyak Duri, Kecamatan Mandau, Kamis (27/8/2026).

Staf Khusus KSAL sekaligus Ketua Tim Penyuluh, Brigjen TNI (Mar) Freddy Jhon Hamonangan Pardosi, hadir langsung untuk berdialog dengan aparat kewilayahan dan unsur lintas sektoral. Didampingi Kolonel Tek Wayan Joni Nugraha dan Mayor Inf Sugianto, Pardosi disambut Danramil 03/Mandau Kapten Czi Suratmin, Camat Mandau Riki Rihardi, Kapolsek Mandau I Made Pasek serta jajaran terkait.

banner 336x280

Bagi Pardosi, penanggulangan kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar persoalan memadamkan api. Di balik setiap titik kebakaran terdapat ancaman terhadap kesehatan masyarakat, lingkungan, aktivitas ekonomi, bahkan keselamatan personel yang berjibaku di lapangan. Karena itu, ia menekankan pentingnya penanganan yang terencana, cepat, aman dan melibatkan seluruh unsur.

“Mulai dari kesiapan personel pemadam dari berbagai elemen dan lintas sektoral, ketersediaan sarana dan prasarana, ketersediaan sumber air, pengenalan medan di lapangan sampai dengan sistem pemadaman cepat–selamat penting dijalankan agar Karhutla yang terjadi dapat segera padam,” kata Pardosi.

Ia menegaskan, strategi penanggulangan harus dilakukan dari hulu hingga hilir. Artinya, upaya tidak hanya berfokus pada api yang sudah membesar, tetapi juga memastikan kesiapan sejak sebelum kebakaran terjadi, termasuk pemetaan wilayah rawan, kesiapan sumber air, akses menuju lokasi, hingga koordinasi antarlembaga.

Langkah tersebut dinilai penting karena kebakaran di wilayah gambut kerap menghadirkan tantangan tersendiri. Api dapat berada jauh dari permukiman dan sulit dijangkau kendaraan pemadam. Jika terlambat ditangani, asap yang ditimbulkan dapat semakin luas dan mengganggu kehidupan masyarakat.

Persoalan akses itulah yang dihadapi personel gabungan di Kecamatan Mandau. Danramil 03/Mandau Kapten Czi Suratmin menjelaskan, sejumlah titik api berada jauh dari jalan utama dengan kondisi medan yang sulit.

“Lokasi titik api berjarak cukup jauh dengan keadaan akses jalan yang sulit, sehingga armada pemadam tak bisa masuk dan menjangkau titik api. Dalam keadaan ini, kami terpaksa memakai pompa portabel dan menggelar gulungan selang pemadam untuk sampai ke pusat kebakaran,” ungkap Suratmin.

Di tengah keterbatasan tersebut, personel di lapangan dituntut tidak hanya berani, tetapi juga mampu menghitung risiko. Keselamatan petugas menjadi bagian penting dalam setiap operasi pemadaman agar upaya menyelamatkan lingkungan tidak justru menimbulkan korban.

Selain persoalan teknis, Tim Penyuluh juga menerima masukan mengenai persoalan kepemilikan lahan. Camat Mandau Riki Rihardi mengungkapkan, sebagian lahan yang terbakar diketahui dimiliki warga dari luar daerah sehingga aparat mengalami kesulitan melakukan pengawasan maupun meminta pertanggungjawaban pemilik.

“Lahannya di sini, tapi yang punya entah di mana. Kami kesulitan mencari siapa pemilik lahan untuk dimintai keterangan serta pertanggungjawaban di lapangan,” ujarnya.

Sementara itu, Kapolsek Mandau I Made Pasek menegaskan bahwa penegakan hukum tetap dilakukan terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran hutan maupun lahan. Menurutnya, langkah hukum diperlukan untuk memberikan efek jera sekaligus mencegah terulangnya kejadian serupa.

Penyuluhan tersebut kemudian dilanjutkan dengan diskusi lintas sektor. Berbagai persoalan yang dihadapi petugas di lapangan, mulai dari akses, peralatan, sumber air, kondisi medan hingga aspek pengawasan dan penegakan hukum, dihimpun sebagai bahan evaluasi.

Bagi Pardosi, pengalaman para petugas yang berhadapan langsung dengan api merupakan masukan penting untuk memperbaiki sistem penanggulangan Karhutla secara nasional. Berbagai saran dan persoalan yang muncul di Bengkalis selanjutnya akan dirangkum dan disampaikan ke tingkat pusat sebagai bahan penyusunan langkah penanganan yang lebih efektif.

Melalui pengerahan Tim Penyuluh ke berbagai kabupaten/kota di Riau, Mabes TNI berharap kemampuan aparat kewilayahan semakin sigap dalam menghadapi Karhutla. Lebih dari sekadar memadamkan api, gerakan ini diarahkan untuk membangun kesadaran bersama bahwa menjaga hutan dan lahan merupakan tanggung jawab pemerintah, pemilik lahan, aparat, dunia usaha dan seluruh masyarakat.

 

(Sunarno)

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.