Sindir Pemkot Tangerang, Mahasiswa GMNI Buka Taman Baca Ambil Alih Fungsi Perpustakaan Taman Ecopark yang Mati Suri

oleh -89 Dilihat
oleh
Mahasiswa GMNI STISNU Tangerang membuka taman baca di Eco Park Neglasari Kota Tangerang.
banner 468x60

KOTA TANGERANG, Cybernewsnasional.com – Belasan mahasiswa Dewan Pimpinan Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) STISNU Nusantara menyentil Pemerintah Kota Tangerang dengan cara yang tak biasa. Mereka membuka lapak baca gratis tepat di dekat bangunan perpustakaan mini milik Pemkot Tangerang yang terbengkalai di kawasan Taman Ecopark, Neglasari, Rabu (22/7/2026).

Aksi bertajuk Taman Baca Marhaenis itu menjadi kritik terbuka terhadap keberadaan fasilitas publik yang dibangun menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), namun kini tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

banner 336x280

Bangunan perpustakaan bercat dominan biru, kuning, dan merah yang berdiri di area taman tersebut tampak tertutup rapat. Pintu terkunci dan kaca bangunan dipenuhi debu, menandakan minimnya aktivitas maupun pemanfaatan fasilitas tersebut.

Di tengah kondisi itu, mahasiswa justru menggelar lapak baca sederhana menggunakan terpal. Beragam buku disediakan untuk masyarakat, mulai dari karya-karya pemikiran kebangsaan Sukarno, tulisan kritis Tan Malaka, novel Pramoedya Ananta Toer, hingga literatur ekonomi-politik. Tidak hanya itu, tersedia pula buku cerita bergambar, krayon, dan buku mewarnai untuk anak-anak.

Ketua DPK GMNI STISNU Nusantara, Muhamad Ridwan, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk keprihatinan sekaligus kritik terhadap pengelolaan aset publik di Kota Tangerang.

“Kami miris melihat perpustakaan di taman ini mangkrak dan tidak beroperasi. Padahal, pembangunan fasilitas publik menggunakan uang rakyat yang tidak sedikit. Jika dibiarkan mati begini, sama saja anggaran daerah dibuang sia-sia,” kata Ridwan saat ditemui di lokasi, Rabu sore.

Menurut Ridwan, persoalan literasi tidak bisa selalu dibebankan kepada rendahnya minat baca masyarakat. Ia menilai, lemahnya tata kelola, konsep pengoperasian, serta minimnya komitmen perawatan pascapembangunan justru menjadi persoalan utama.

Kehadiran Taman Baca Marhaenis mendapat respons positif dari warga yang sedang berkunjung ke Taman Ecopark. Sejumlah pengunjung terlihat antusias mendatangi lapak baca dan memanfaatkan koleksi buku yang tersedia.

Rendra (18), warga Karawaci, mengaku selama ini mengira bangunan perpustakaan yang berada di taman tersebut hanyalah gudang penyimpanan karena selalu tertutup.

“Harusnya Pemkot malu. Masa (pelayanan) kalah gerak dengan mahasiswa yang cuma bermodal terpal?” kata Rendra.

Sementara itu, Raka (13), anak yang tinggal di sekitar lokasi, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan mewarnai bersama teman-temannya.

“Senang ada buku gambar begini, jadi bisa mewarnai bareng,” ujarnya.

Ridwan menegaskan, fenomena perpustakaan taman yang tidak berfungsi mencerminkan persoalan mendasar dalam pembangunan fasilitas publik, yakni pembangunan fisik yang tidak diikuti dengan konsep pengelolaan dan pemanfaatan berkelanjutan.

“Kalau membuat fasilitas publik hanya untuk mengejar laporan proyek lalu dibiarkan terbengkalai, untuk apa? Jika pada akhirnya mahasiswa yang harus turun tangan melayani warga, lantas apa fungsi kehadiran dinas terkait?” ujar Ridwan. (Ups)

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.