Malam Puisi Tangerang, Dari Syair Patah Hati hingga Omon-omon Negeri

oleh -82 Dilihat
Salahsatu pembaca Puisi, Ika Lestari, membacakan Puisi Karya Boy Mihaballo, Berjudul Menulis Puisi Lagi.
banner 468x60

KOTA TANGERANG, Cybernewsnasional.com — Pertunjukan karya sastra puisi kembali digelar di Tangerang, melalui kegiatan Malam Puisi Tangerang yang berlangsung di Semanggi Center, kawasan perkantoran dan pendidikan Cikokol, Kota Tangerang, Jumat (29/05/2025) malam.

Mengusung tema “Kota, Kita, Kata” acara tersebut menghadirkan para penyair dan penikmat sastra dari lintas generasi dan latar belakang. Mulai dari pelajar sekolah dasar, aktivis mahasiswa, pekerja seni hingga para seniman yang masih aktif berkarya di tanah air.

banner 336x280

Salahsatu penggagas Malam Puisi Tangerang, Andi Lesmana, dari keberagaman peserta menjadi salahsatu tujuan utama penyelengaraan acara tersebut, terutama dalam mendorong regenerasi di bidang sastra, khususnya puisi.

“Malam Puisi Tangerang menjadi ruang, tempat dimana Kita datang, dengar dan bacakan puisi ini. Goalsnya itu adalah membuka ruang buat teman-teman generasi yang lebih muda.” Paparnya.

Menurut Andi, Malam Puisi Tangerang telah berjalan sejak tahun 2013, walau sempat vakum diterpa badai Pandemi, Andi bersama teman-temannya terus berusaha aktif menggelar di Tangerang Raya.

“Kita berkeliling, jadi tidak hanya di Kota Tangerang, Kita juga di Tangerang Selatan bahkan di beberapa tempat di Kabupaten Tangerang.” Ucapnya.

Melalui undangan personal dan publikasi media sosial, kegiatan ini berhasil menarik perhatian penyair dan pecinta sastra dari berbagai daerah. Tidak hanya dari Tangerang, peserta juga datang dari DKI Jakarta dan Kota Serang.

Menariknya, seorang pembaca Puisi yang merupakan perantau asal Tasikmalaya Jawa Barat mengaku mengetahui informasi acara tersebut melalui media sosial dan memutuskan hadir untuk membacakan karya puisinya.

Meski mengangkat tema “Kota, Kita, Kata”, karya-karya puisi yang dibacakan tak hanya bercerita tentang Kota Tangerang, beragam sudut pandang dan pengalaman hidup dituangkan para penyair melalui syair-syair yang dibacakan sepanjang malam.

Dari puisi yang bercerita tentang Gedung Kesenian Kota Tangerang yang kini berubah menjadi lahan Parkir bertingkat, Sungai Cisadane, tak luput puisi cinta patah hati sang Penyair. Tak sedikit pula syair berisi kritik sosial dan kritik terhadap Pemerintah, menyinggung diksi “omon-omon”, “antek-antek asing” hingga “negeri seremonial”.

Andi menjelaskan, sebagian karya yang ditampilkan dalam Malam Puisi Tangerang kali ini dikemas dalam bentuk majalah cetak terbatas, dimuat dalam Antologi Malam Puisi Volume 1.

“Untuk dapat mengapresiasi dan berekspresi baik itu karyanya, baik karya pendahulu di dunia kesastraan. Sebelum acara malam Puisi kita Open Submission karya-karya sesuai dengan tema yang Kita usung,” terang Andi.

Acara yang ditutup dengan lirik lagu serapan dari acara Malam Puisi Tangerang yang dibawakan oleh Edi Bonetsky, diiringi musik gitar, saksofon dan tabuhan tong kosong. Andi berharap Malam Puisi Tangerang dapat terus digelar sebagai upaya melestarikan kegiatan seni budaya sastra di Tangerang. (Ups)

“Tetap terus ada dan hidup berdetak.” Pungkasnya.

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.