Pelemahan Rupiah, Ancaman Nyata bagi Buruh dan Rakyat Kecil

oleh -426 Dilihat
oleh
Timboel Siregar
banner 468x60

JAKARTA, Cybernewsnasional.com – Pidato Presiden Prabowo Subianto yang terkesan meremehkan pelemahan nilai tukar rupiah memunculkan tanda tanya besar di tengah masyarakat. Ketika kurs rupiah terus mengalami tekanan, rakyat justru berharap negara hadir dengan sikap serius dan langkah konkret, bukan sekadar pernyataan yang menenangkan tanpa solusi nyata.

Pelemahan rupiah bukan sekadar persoalan angka di pasar keuangan. Dampaknya langsung dirasakan oleh rakyat kecil, termasuk kaum buruh dan keluarganya. Banyak industri nasional hingga hari ini masih bergantung pada bahan baku impor. Ketika dolar naik, biaya produksi ikut melonjak. Akibatnya harga barang di pasar naik, sementara penghasilan masyarakat tetap.

banner 336x280

Dalam kondisi seperti ini, daya beli masyarakat pasti menurun. Buruh menjadi kelompok yang paling rentan karena kenaikan upah tidak pernah secepat kenaikan harga kebutuhan pokok. Secara nyata, upah riil buruh terus tergerus. Gaji mungkin tetap, tetapi kemampuan membeli kebutuhan hidup semakin melemah.

Situasi ini juga mengancam keberlangsungan perusahaan. Tidak semua industri mampu bertahan menghadapi tekanan kurs dan masalah cash flow. Jika kondisi terus memburuk, maka pengurangan pekerja hingga gelombang PHK besar bisa menjadi kenyataan. Ketika buruh kehilangan pekerjaan, maka kemiskinan baru akan lahir di berbagai daerah.

Ironisnya, di tengah ancaman tersebut, banyak aktivis serikat pekerja dan serikat buruh justru terlihat diam. Kritik terhadap kondisi ekonomi yang berdampak langsung pada nasib pekerja nyaris tidak terdengar. Sebagian lebih sibuk menghadiri acara seremonial, memberikan tepuk tangan pada pidato kekuasaan, dibanding menyuarakan keresahan buruh di lapangan.

Jabatan demi jabatan yang diberikan kepada sebagian aktivis buruh, undangan acara resmi, hingga kesempatan menghadiri forum internasional seperti ILC di Geneva, dinilai sebagian kalangan sebagai upaya meredam sikap kritis gerakan buruh. Padahal ancaman yang dihadapi pekerja saat ini sangat nyata: daya beli turun, upah riil melemah, PHK meningkat, dan kemiskinan semakin dekat.

Gerakan buruh seharusnya kembali kepada ruh perjuangannya: berdiri bersama rakyat dan menyuarakan kebenaran, bukan larut dalam kenyamanan kekuasaan. Sebab ketika ekonomi melemah, yang paling pertama merasakan sakitnya bukan pejabat, melainkan buruh, petani, dan masyarakat kecil.

Opini : Timboel Siregar.
Sabtu, 16 Mei 2026.

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.