JAKARTA.Cybernewsnasional.com-Suku Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Kominfotik) Kota Administrasi Jakarta Utara bersama Suku Dinas Kebudayaan memfasilitasi mediasi terkait video viral di media sosial yang menyebut seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mabuk obat terlarang hingga masuk ke rumah warga.
Melalui proses klarifikasi yang dilakukan, dipastikan bahwa ASN berinisial NS tidak melakukan perbuatan negatif sebagaimana yang beredar dalam narasi video tersebut. Saat kejadian, yang bersangkutan diketahui sedang dalam kondisi kurang sehat dan tengah menjalani perawatan medis secara rawat jalan.
Kepala Suku Dinas Kominfotik Jakarta Utara, Dr. R. Fauzy, menjelaskan bahwa mediasi dilakukan untuk meluruskan informasi yang sempat menimbulkan keresahan di masyarakat.
Pertemuan tersebut juga mempertemukan pihak keluarga NS dengan pengelola akun media sosial yang menyebarkan video tersebut.
“Melalui mediasi ini kedua pihak telah bertemu, melakukan klarifikasi, dan sepakat menyelesaikan persoalan secara damai,” ujar Fauzy, Jumat (13/3).
Ia juga mengingatkan pentingnya masyarakat melakukan verifikasi informasi sebelum mempublikasikan konten di media sosial agar tidak menimbulkan kesalahpahaman maupun merugikan pihak lain.
“Setiap informasi yang beredar di media sosial sebaiknya dipastikan terlebih dahulu kebenarannya. Jangan sampai konten yang diunggah justru menimbulkan kegaduhan di masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Pengamat Media dari Homeless Media, Jhon Vinarko, mengimbau para pengelola akun media sosial untuk lebih berhati-hati dalam mengunggah konten dan tidak hanya mengejar trafik atau viralitas tanpa melalui proses verifikasi yang jelas.
Menurutnya, penyebaran informasi yang tidak terverifikasi dapat berdampak pada reputasi seseorang maupun menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Melalui mediasi yang difasilitasi oleh pemerintah kota tersebut, kedua belah pihak akhirnya sepakat menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan serta berharap kejadian serupa tidak kembali terulang di kemudian hari.













