Susu Dirapel, Menu MBG Ramadan di SDN Papanggo 01 Disorot: Nilai Porsi Diduga Tak Capai Rp10 Ribu

oleh -48 Dilihat
banner 468x60

JAKARTA.Cybernewsnasional.com-Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Ramadan 1447 H kembali menjadi sorotan. Kali ini, dugaan ketidaksesuaian komponen menu serta transparansi anggaran mencuat di SDN Papanggo 01, Tanjung Priok, Jakarta Utara, yang berada di bawah pengelolaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Papanggo.

Berdasarkan pantauan di lapangan, terdapat perbedaan komposisi menu antarhari. Bahkan, distribusi susu kepada siswa disebut sempat “dirapel” karena keterlambatan pasokan.

banner 336x280

Petugas Tata Usaha SDN Papanggo 01 membenarkan adanya kendala distribusi susu sejak 24–25 Februari 2026.

“Iya, masalah susu ya. Dirapel, sudah tiga kali enggak ada susu,” ujar salah satu petugas TU saat ditemui wartawan, Rabu (25/2/2026) sore.

Hitung-hitungan Komponen Dipertanyakan

Data yang dihimpun menyebutkan, komponen menu MBG pada Selasa (24/2/2026) terdiri dari:

Roti merek Rumah Budi: Rp2.500

Telur rebus ukuran kecil: Rp2.000

Jeruk: Rp2.000

Susu Ultra Milk 125 ml: Rp2.500

Total estimasi komponen per porsi sekitar Rp9.000.

Harga pasaran Susu Ultra Milk 125 ml sendiri berkisar Rp80.000–Rp100.000 per dus isi 40 pcs, atau sekitar Rp2.000–Rp2.500 per kemasan. Dengan demikian, secara perhitungan sederhana, total menu memang tidak menyentuh angka Rp10.000 per porsi sebagaimana yang dipersepsikan sebagian wali murid.

Seorang wali murid mengaku heran dengan perubahan komposisi menu yang dinilai tidak konsisten.

“Kalau kemarin masih ada susu dan dua kurma sama pisang. Hari ini jeruk saja, susu dan kurma tidak ada. Enggak sampai kali Rp10 ribu,” ujarnya.

Standar Gizi Jadi Pertanyaan

Program MBG sejatinya dirancang untuk membantu pemenuhan kebutuhan gizi siswa, terlebih selama Ramadan ketika pola makan anak berubah. Namun, variasi menu yang dinilai minim serta hilangnya komponen susu pada hari tertentu memunculkan pertanyaan terkait konsistensi standar gizi yang diterapkan.

Selain itu, dugaan “perapelan” distribusi susu juga memunculkan kekhawatiran terkait manajemen logistik dan pengawasan kualitas layanan.

Transparansi SPPG Dipertaruhkan

Hingga berita ini diturunkan, pihak SPPG Papanggo belum memberikan keterangan resmi terkait keterlambatan distribusi dan perubahan komposisi menu. Informasi sementara menyebutkan, keterlambatan dan perapelan susu terjadi karena stok dari penyuplai habis.

Sebagai pelaksana teknis di lapangan, SPPG memiliki tanggung jawab atas kualitas, kuantitas, serta konsistensi menu yang diterima siswa. Orang tua murid berharap ada penjelasan terbuka agar program yang bertujuan baik tersebut benar-benar memberikan manfaat optimal bagi anak-anak.

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.