PALEMBANG.Cybernewsnasional.com-Ratusan jamaah Masjid Al Huda, Kampung Sukosari, Kota Palembang, mengikuti peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan malam Nisfu Syaban 1447 Hijriah, Senin malam (2/2/2026) selepas ba’da Magrib, sekitar pukul 18.00 WIB.
Kegiatan keagamaan yang berlangsung khidmat ini digelar bertepatan dengan 15 Syaban 1447 H, yang secara kalender Hijriah jatuh pada Selasa, 3 Februari 2026, sehingga malam Nisfu Syaban dimulai sejak Senin malam.
Sebelumnya, panitia Masjid Al Huda telah memasang banner imbauan di persimpangan Kampung Sukosari yang mengajak masyarakat menghadiri peringatan tersebut.
“Hadirilah Peringatan Isra Mi’raj dan Malam Nisfu Syaban bersama KH Agok Saripudin dan KH Tantowi Djauhari pada Senin malam Selasa, 2 Februari 2026,” demikian bunyi tulisan pada banner.
Rangkaian acara malam Nisfu Syaban diisi dengan pembacaan Surah Yasin sebanyak tiga kali, dilanjutkan doa Nisfu Syaban, serta tausiyah dari KH Agok Saripudin. Sementara peringatan Isra Mi’raj disampaikan oleh KH Tantowi Djauhari.
Pihak Masjid Al Huda menyampaikan bahwa kegiatan tersebut terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya, baik bagi jamaah laki-laki maupun perempuan.
Acara ini turut dihadiri Ketua RT 15 RW 05 Nazirin, Ketua Masjid Al Huda H. Darul Jalal, MM, Sekretaris Drs. H. Alinuddin Sani, M.Si, Bendahara H. Rachman, SE, serta pengurus masjid lainnya seperti Zainal Romzah dan Rudi Hartono.
Hadir pula tokoh masyarakat di antaranya Hendra Saudi, Warli Uni, Sampuri, SE, Asri, SP, Ir. Tajudin, Bastari Aziz, jamaah pengajian ibu-ibu, remaja, anak-anak TK/TPA, serta masyarakat sekitar Kampung Sukosari.
Dalam tausiyahnya, KH Agok Saripudin menyampaikan bahwa malam Nisfu Syaban merupakan momentum penting untuk introspeksi diri, memperbanyak istigfar, memohon ampunan, serta memperbaiki hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia.
“Nisfu Syaban diperingati pada pertengahan bulan Syaban, bulan kedelapan dalam kalender Hijriah. Ini saat yang tepat bagi umat Islam untuk membersihkan hati dan meningkatkan ketakwaan,” ungkap kiai asal Burai, Ogan Ilir tersebut.
Ia juga mengingatkan anjuran Rasulullah SAW untuk memperbanyak ibadah pada malam Nisfu Syaban, sebagaimana diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib.
“Jika datang malam Nisfu Syaban, salatlah dan puasalah pada siang harinya, karena Allah menurunkan ampunan-Nya sejak terbenam matahari hingga pagi hari,” kutipnya.
Selain puasa sunah, KH Agok menyebutkan sejumlah amalan yang dianjurkan, seperti memperbanyak istigfar, zikir, salawat, membaca syahadat, melaksanakan salat malam, serta membaca Surah Yasin sebanyak tiga kali.
Sementara itu, dalam ceramah peringatan Isra Mi’raj, KH Tantowi Djauhari menjelaskan bahwa peristiwa Isra Mi’raj merupakan bentuk penghiburan dan penguatan dari Allah SWT kepada Rasulullah SAW, yang saat itu baru saja ditinggal wafat istri tercinta Sayyidah Khadijah dan pamannya Abu Thalib.
“Allah ingin menguatkan hati Nabi dengan memperlihatkan langsung kebesaran-Nya, agar Nabi semakin mantap dan teguh dalam menyebarkan agama Allah,” jelasnya.
Menurutnya, peristiwa Isra Mi’raj mengajarkan beberapa pelajaran penting bagi umat Islam. Pertama, kewajiban menjalankan salat lima waktu dengan penuh kekhusyukan.
“Jika Nabi melakukan Isra Mi’raj dengan ruh dan jasad sebagai mukjizat, maka setiap Muslim wajib menghadap Allah lima kali sehari dengan jiwa dan hati yang khusyuk,” ujarnya.
Ia menambahkan, salat yang khusyuk akan melahirkan pribadi yang merasa selalu diawasi Allah, sehingga terhindar dari perbuatan tercela dan lebih mudah melakukan kebaikan.
Pelajaran lainnya, lanjut KH Tantowi, Isra Mi’raj merupakan mukjizat perjalanan Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha, yang dapat dimaknai sebagai perjalanan manusia menuju kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Umat Islam harus mandiri, bangkit, dan melek sains serta teknologi, tanpa meninggalkan keimanan,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga dan membela Masjidil Aqsa sebagai bagian dari tempat suci umat Islam.
“Membela Masjidil Aqsa berarti membela agama Islam. Setiap Muslim wajib berjuang sesuai kemampuannya, baik melalui doa, bantuan kemanusiaan, maupun dukungan lainnya,” pungkasnya.
( Budi Purwanto )













