Sri Eko Galgendu Serahkan Kitab Bahasa Bumi kepada Ketua Forum Pemred SMSI

oleh -111 Dilihat
banner 468x60

JAKARTA.Cybernewsnasional.com-Tokoh spiritual Indonesia, Sri Eko Sriyanto Galgendu, menyerahkan sebuah karya spiritual bertajuk KITAB MA HA IS MA YA kepada Ketua Umum Forum Pemimpin Redaksi Media Siber Indonesia (Forum Pemred SMSI), Dar Edi Yoga, dalam sebuah pertemuan Rabu malam (14/1/2026).

Kitab tersebut merupakan hasil monolog spiritual yang ditulis selama 20 jam non-stop, dan disebut sebagai salah satu karya spiritual tercepat yang pernah lahir dalam perjalanan spiritual dunia modern. Kitab setebal sekitar 300 halaman ukuran A5 itu ditulis menggunakan teknologi digital, berisi doa, syair, dan ayat-ayat yang disebut sebagai Bahasa Bumi (BhaHasa BhuMi).

banner 336x280

Menurut Sri Eko Sriyanto Galgendu, BhaHasa BhuMi adalah bahasa jiwa, bahasa yang merekam hubungan manusia (Ma Nuh Sa) dengan tanah dan bumi tempat ia dilahirkan dan hidup. Ia menegaskan bahwa bumi bukan entitas pasif, melainkan mencatat perilaku, tanggung jawab, dan kesadaran manusia yang berpijak di atasnya.

“Bumi mencatat hidup dan kehidupan manusia. Apa yang ditanam dalam laku, akan kembali dalam makna,” ujar Eko Galgendu.

KITAB MA HA IS MA YA disebut sebagai hasil dari 29 tahun perjalanan pembelajaran tanggung jawab spiritual, serta bagian dari laku panjang yang ia sebut Puasa Pala, terinspirasi dari Puasa Mahapatih Gajah Mada — yaitu puasa untuk tidak menikmati hasil dari perjuangan demi masyarakat, bangsa, dan negara.

Kitab ini berisi 79 doa spiritual testimoni tentang tanggung jawab hidup manusia, dan menjadi panduan untuk menemukan apa yang disebutnya sebagai “Ayat Diri”, yakni kesadaran jati diri manusia sebagai makhluk spiritual sekaligus sosial.

“Menemukan Ayat Diri adalah buah dari perjalanan hidup itu sendiri,” kata Eko Galgendu.

Dalam konteks peradaban, penyusunan kitab ini dilandasi refleksi panjang mengenai kepemimpinan, krisis nilai, dan masa depan bangsa. Ungkapan yang disampaikan Muhammad Habib Chirzin pada Mei 2025, “Sudah waktunya seperti Semar Mbabar Kahayangan,” disebut menjadi salah satu penanda kelahiran karya tersebut.

KITAB MA HA IS MA YA dipersembahkan secara khusus sebagai bentuk kehormatan spiritual kepada Alm. Sri Susuhunan Pakubuwana XII dan Alm. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dua figur yang menurut Eko Galgendu memberikan kepercayaan, ruang, serta keteladanan hingga batas akhir hayat dan akhirat.

Sementara itu, Dar Edi Yoga menyambut kehadiran kitab tersebut sebagai karya spiritual yang memiliki resonansi kuat dengan khazanah peradaban Nusantara. Sebagai pengamat spiritual yang selama ini konsen pada kajian Gunung Padang, Dar Edi menilai gagasan Bahasa Bumi selaras dengan pesan peradaban yang tersimpan pada situs megalitik tersebut.

“Gunung Padang mengajarkan bahwa peradaban besar lahir dari kesadaran, tanggung jawab, dan hubungan manusia dengan tanahnya. Dalam konteks itu, kitab ini berbicara dalam frekuensi yang sejalan,” ujarnya.

Dar Edi menambahkan, narasi spiritual yang menghubungkan manusia, bumi, dan tanggung jawab peradaban menjadi sangat relevan di tengah krisis moral dan ekologis global saat ini.

“Pembacaan ulang nilai spiritual Nusantara penting agar manusia modern tidak tercerabut dari akar kesadarannya,” tegasnya.

Penyerahan kitab ini tidak hanya menjadi peristiwa simbolik, tetapi juga membuka ruang dialog tentang spiritualitas, peradaban, dan makna kepemimpinan di Indonesia, di tengah zaman yang kian cepat namun kerap kehilangan arah batin.

banner 336x280

No More Posts Available.

No more pages to load.